MAROS – Pemerintah Kabupaten Maros di bawah kepemimpinan Bupati Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., dan Wakil Bupati A. Muetazim Mansyur, S.T., M.Si., kian memperkuat langkah strategis dalam menekan prevalensi stunting.
Melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP3ADALDUKKB), pendekatan yang kini dikedepankan bukan lagi sekadar intervensi sektoral, melainkan kolaborasi lintas elemen sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen Pimpinan dan Integrasi Program
Bupati Maros menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting tidak boleh dipahami semata sebagai capaian statistik. Menurutnya, ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing.
Kepala DP3ADALDUKKB Kabupaten Maros, Muhammad Aris, S.Sos., M.Si., mengungkapkan bahwa pihaknya telah meluncurkan sejumlah inovasi berbasis preventif yang menyasar akar persoalan di tingkat keluarga.
Salah satu program unggulan adalah INNOVA (Ingatkan Orang Tua Validasi Gizi dan Aksi Sehat Cegah Stunting) yang mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam memastikan kecukupan gizi dan pola asuh anak.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Melalui INNOVA, kami mendorong keterlibatan aktif orang tua untuk lebih peduli terhadap validasi gizi anak-anak mereka. Ini langkah preventif yang sangat krusial,” ujar Muhammad Aris.
Lima Pilar Gerakan Sosial
Selain INNOVA, DP3ADALDUKKB Maros mengimplementasikan lima gerakan pendukung yang dirancang secara komprehensif:
GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting): Mengajak stakeholder dan masyarakat menjadi orang tua asuh bagi balita berisiko stunting.
TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak): Penyediaan ruang aman dan edukatif untuk mendukung tumbuh kembang anak.
GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia): Mendorong peran aktif ayah dalam pengasuhan dan pemenuhan gizi keluarga.
SIDAYA (Lansia Berdaya): Mengoptimalkan peran lansia dalam menciptakan lingkungan keluarga sehat.
Super Apps “Keluarga Indonesia”: Integrasi data dan layanan digital guna memudahkan monitoring kesehatan keluarga.
Sekretaris Dinas, Hj. Muslimah Mustafa, S.T., M.Si., bersama para kepala bidang turut menekankan bahwa stunting memiliki keterkaitan erat dengan persoalan sosial seperti pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga.
Karena itu, kampanye “Stop Kekerasan Perempuan dan Anak” serta “Stop Perkawinan Anak” terus diperkuat. Pemerintah daerah meyakini bahwa ibu yang matang secara usia dan psikologis serta lingkungan keluarga harmonis merupakan fondasi utama pencegahan stunting.
“Perempuan berdaya dan anak terlindungi adalah modal utama menuju Indonesia Emas 2045. Program keluarga berencana juga kami integrasikan melalui kampanye ‘Berencana Itu Keren’ agar setiap keluarga memiliki kesiapan ekonomi dan kesehatan,” demikian disampaikan dalam keterangan resmi DP3ADALDUKKB.
Menuju Transformasi Layanan Kesehatan Keluarga
Pendekatan yang dilakukan Pemkab Maros menunjukkan pergeseran paradigma dari bantuan sosial konvensional menuju gerakan sosial terstruktur berbasis data dan kolaborasi.
Dengan integrasi validasi gizi, edukasi kesehatan, perlindungan perempuan dan anak, serta digitalisasi layanan melalui Super Apps “Keluarga Indonesia”, Maros menargetkan kontribusi nyata terhadap agenda nasional penurunan stunting.
Masyarakat kini menantikan implementasi penuh platform digital tersebut, yang diharapkan mampu mempercepat akses informasi gizi, mempermudah koordinasi lintas sektor, serta menjangkau keluarga hingga ke pelosok desa di Butta Salewangang.
HAMZAN













