MAROS – Taman Wisata Alam Bantimurung selama ini dikenal sebagai destinasi unggulan dengan julukan “The Kingdom of Butterfly”. Keindahan air terjun dan lanskap karst menjadikannya daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Namun, di balik pesona alam tersebut, keberadaan Hotel Bantimurung justru memunculkan kontras mencolok. Bangunan yang semestinya menjadi fasilitas penunjang wisata itu kini terlihat terbengkalai dan dinilai mengganggu estetika kawasan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi fisik hotel tampak mengalami penurunan signifikan. Cat bangunan mengelupas, dinding ditumbuhi lumut, serta sejumlah bagian mulai tertutup vegetasi liar. Alih-alih menjadi penginapan representatif, bangunan tersebut kini menyerupai gedung kosong yang tidak terawat.
Kondisi ini turut memunculkan kesan tidak nyaman bagi pengunjung. Selain merusak pemandangan, keberadaan hotel yang tampak “mati” tersebut dinilai berpotensi menurunkan minat wisatawan untuk menginap di kawasan Bantimurung.
Dari sisi ekonomi, kondisi hotel tersebut juga dinilai berdampak pada potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan jumlah kunjungan wisatawan yang relatif stabil setiap tahun, fasilitas akomodasi sebenarnya memiliki peluang besar untuk mendukung pemasukan daerah.
Namun, kenyataannya wisatawan cenderung memilih menginap di luar kawasan, bahkan kembali ke Kota Makassar, karena fasilitas hotel dinilai tidak memadai. Di sisi lain, pembiaran yang berlangsung lama juga berisiko memperparah kerusakan bangunan dan meningkatkan biaya perbaikan di masa mendatang.
Situasi ini memicu perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan pemerhati pariwisata. Mereka menilai perlu adanya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi hotel serta menyusun rencana penataan ulang.
Sejumlah gagasan pun mengemuka, mulai dari konsep pengembangan berbasis eco-resort yang selaras dengan lingkungan karst, hingga modernisasi fasilitas agar sesuai dengan standar penginapan yang lebih kompetitif.
Selain itu, aspek pengelolaan juga dinilai perlu diperkuat agar aset daerah tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak kembali terbengkalai.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maros, Suwardi Sawedi, mengakui adanya kendala dalam pemeliharaan hotel selama ini.
“Kondisi ini terjadi karena memang tidak pernah ada alokasi biaya pemeliharaan untuk hotel tersebut. Oleh karena itu, langkah strategis yang diambil Pemerintah Kabupaten Maros saat ini adalah merencanakan pengalihan pengelolaan TWA Bantimurung, termasuk hotel di dalamnya, kepada pihak ketiga,” ujarnya.
Keberadaan bangunan yang tidak terawat di kawasan wisata unggulan dinilai dapat memengaruhi citra pariwisata daerah. Karena itu, publik kini menanti langkah konkret Pemerintah Kabupaten Maros dalam menghidupkan kembali fungsi Hotel Bantimurung sebagai penunjang utama destinasi wisata tersebut.
HAMZAN












