MAKASSAR– Aliran Sungai Balangturungan yang terletak di Kelurahan Daya, Kecamatan Biringkanaya, kini dalam kondisi memprihatinkan. Tanaman eceng gondok terpantau menginvasi hampir seluruh permukaan air, memicu kekhawatiran warga akan potensi banjir besar di wilayah tersebut.
Merespons laporan masyarakat, Lurah Daya, Andhyka Agrianto, S.STP, melakukan peninjauan lapangan secara langsung guna memetakan tingkat keparahan sedimentasi dan hambatan drainase alami tersebut.
Kondisi Lapangan: Aliran Vital yang Tercekik
Berdasarkan pantauan di lokasi, Sungai Balangturungan yang menjadi batas wilayah antara Kelurahan Daya dan Kelurahan Berua ini, merupakan urat nadi pembuangan air utama menuju Sungai Tallo. Namun, laju air kini nyaris lumpuh total akibat rapatnya populasi eceng gondok.
“Kondisinya sudah sangat tertutup rapat. Pertumbuhannya sangat cepat sehingga memicu pendangkalan. Jika tidak segera dibersihkan, aliran air tidak akan maksimal menuju muara,” ujar salah seorang warga di lokasi.
Dalam peninjauan tersebut, Lurah Daya didampingi oleh Ketua RT 04, Akhirul Latif, untuk berkoordinasi mengenai langkah taktis jangka pendek. Kehadiran pemerintah setempat di lapangan menjadi sinyal komitmen untuk menjaga keamanan pemukiman warga dari ancaman luapan air.
Langkah Darurat dan Kendala Kewenangan
Andhyka Agrianto menegaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan agenda pembersihan massal sebagai langkah darurat. Mengingat cuaca yang mulai tidak menentu, pembersihan manual akan diupayakan dalam waktu dekat.
*Tujuan Utama:Memastikan sirkulasi air tetap mengalir lancar menuju Sungai Tallo.
* **Target:** Meminimalisir risiko banjir di kawasan padat penduduk Biringkanaya.
Kendala Utama: Skala invasi tanaman yang luas memerlukan intervensi alat berat (ekskavator).
Namun, terdapat kendala birokrasi terkait status kewenangan sungai. Meskipun pihak kelurahan dan warga aktif melakukan kerja bakti, penanganan skala besar melalui pengerukan sedimen berada di bawah naungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.
Harapan Masyarakat: Penanganan Permanen
Warga setempat berharap pemerintah kota tidak hanya melakukan langkah reaktif, tetapi juga membangun koordinasi yang lebih intens dengan BBWS Pompengan Jeneberang.
“Kami butuh penanganan yang konsisten, bukan sekadar dibersihkan lalu tumbuh lagi. Sebelum puncak musim hujan tiba, kami harap pengerukan sedimen sudah dilakukan agar pemukiman kami tidak terendam,” pungkas Akhirul Latif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kelurahan Daya terus melakukan pemantauan debit air dan mengimbau warga untuk tetap waspada serta menjaga kebersihan saluran drainase di lingkungan masing-masing.













