MAROS – Dalam upaya memperkuat tata kelola serta mengoptimalkan fungsi pembinaan di lembaga pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros menerima kunjungan kerja dari Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ismail Bachtiar, pada Selasa (13/10).
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi biasa, melainkan menjadi momentum strategis untuk mempererat jalur komunikasi, menyerap aspirasi, serta memperkuat dukungan antarlembaga terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi pemasyarakatan di wilayah Sulawesi Selatan.
Kedatangan legislator muda tersebut disambut hangat oleh segenap jajaran pejabat struktural dan petugas Lapas Kelas IIB Maros. Dalam rangkaian kunjungannya, Ismail Bachtiar diajak untuk meninjau langsung kondisi sarana dan prasarana, lingkungan blok hunian, hingga memantau jalannya berbagai program pembinaan keterampilan yang sedang diikuti oleh para warga binaan.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip pelayanan publik, kelayakan tempat hunian, serta aspek keamanan dan ketertiban di dalam Lapas berjalan sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, mengungkapkan rasa hormat dan apresiasinya atas perhatian yang diberikan oleh wakil rakyat tersebut. Menurutnya, perhatian mendalam serta dukungan konkret dari elemen legislatif sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai tantangan dalam pengelolaan lembaga pemasyarakatan saat ini.
“Kami menyambut baik dan merasa terhormat atas kunjungan Bapak Ismail Bachtiar di Lapas Maros. Kami sangat berharap kunjungan ini dapat memperkuat sinergi interlembaga dan menghadirkan dukungan nyata terhadap pelaksanaan tugas pemasyarakatan, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, penguatan sistem keamanan, serta penyempurnaan program pembinaan bagi warga binaan,” ujar Ali Imran di sela-sela kegiatan.
Lebih jauh, Ali Imran menegaskan komitmen Lapas Maros untuk terus bertransformasi menjadi lembaga yang profesional, akuntabel, transparan, dan berorientasi penuh pada pelayanan masyarakat. Berbagai program kemandirian dan pembinaan kerohanian terus digalakkan guna membekali para warga binaan dengan keterampilan hidup (life skills) yang bermanfaat.
Upaya berkelanjutan ini dirancang agar para warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana semata, tetapi juga mengalami proses perubahan perilaku yang positif. Dengan demikian, ketika saatnya bebas nanti, mereka memiliki kesiapan mental dan keterampilan yang cukup untuk kembali berintegrasi ke tengah-tengah masyarakat secara produktif dan mandiri.
Melalui kunjungan kerja ini, pihak Lapas Kelas IIB Maros berharap jalinan komunikasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) tingkat nasional maupun daerah dapat terus terbina secara berkesinambungan. Sinergi yang kuat diharapkan mampu memicu penguatan sistem pemasyarakatan yang tidak hanya aman dan tertib, tetapi juga semakin humanis, responsif, serta memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat luas. (Ac)













