MAROS,OPINI – Maros kembali diselimuti pemandangan yang mengurut dada. Sepanjang jalan utama, deretan kendaraan mengular panjang di depan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) hingga larut malam. Lampu-lampu kendaraan yang berderet di kegelapan malam bukan lagi sekadar pemandangan lalu lintas biasa, melainkan simbol keputusasaan masyarakat yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan jam istirahat mereka hanya demi mendapatkan beberapa liter Bahan Bakar Minyak (BBM).
Fenomena kelangkaan ini tidak lagi terasa sebagai masalah teknis distribusi semata, melainkan sudah mengarah pada bentuk “penyiksaan” terselubung bagi rakyat. Masyarakat menduga ada skenario yang disengaja atau setidaknya sengaja didramatisasi oleh para pemangku kebijakan. Di tengah panasnya terik siang hingga dinginnya angin malam saat mengantre, suara dan jeritan rakyat kecil seolah-olah memantul pada tembok tebal para pejabat yang enggan mendengar.
Dampak dari krisis ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Kelangkaan BBM yang terjadi bersamaan dengan sulitnya mendapatkan gas Elpiji merupakan kombinasi fatal yang siap melumpuhkan rantai kehidupan sosial dan ekonomi. Sektor transportasi lokal terhenti, distribusi pangan terhambat, pedagang kaki lima gagal berproduksi, dan roda perekonomian masyarakat kecil mendadak mati suri. Ketika dapur tidak lagi bisa mengepul akibat Elpiji langka dan kendaraan mogok karena kehabisan BBM, aktivitas harian warga lumpuh total.
Pertanyaan besar yang kini bergema di tengah masyarakat Maros adalah: Siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas kesenjangan dan kekacauan ini? Apakah ini murni kelalaian tata kelola pasokan, ataukah ada permainan regulasi di tingkat atas yang sengaja mengorbankan ketenangan warga demi kepentingan tertentu?
Kondisi ini sudah berada pada taraf yang sangat krusial. Pembenahan pasokan BBM dan Elpiji harus segera dilakukan tanpa penundaan agar denyut nadi perekonomian warga bisa kembali normal. Jika fenomena mengularnya antrean dan kelangkaan ini memang sengaja didramatisasi atau dijadikan komoditas oleh para pemangku kebijakan, maka rakyat kecil hanya punya satu permintaan yang tersisa: Hentikan semua penderitaan ini. Cukuplah sudah beban hidup yang dipikul, jangan lagi diperberat dengan drama kelangkaan yang membuat jeritan rakyat makin perih. (Anchank)











