MAROS — Maros Creative Festival (MCF) 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi titik awal lahirnya lebih banyak kegiatan serupa yang mampu mendorong perkembangan kreativitas, kapasitas, dan partisipasi pemuda di Kabupaten Maros
Harapan tersebut disampaikan Abdul Khalik Akbar, yang akrab disapa Bams, sebagai salah satu penggagas Maros Creative Festival. Menurutnya, potensi anak muda dan komunitas di Maros membutuhkan ruang yang berkelanjutan agar ide, karya, serta kreativitas mereka dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapan kami, setelah Maros Creative Festival ini, akan ada lebih banyak kegiatan serupa yang memberi ruang bagi anak muda untuk berkembang. Jangan sampai kegiatan seperti ini hanya hadir sesekali. Komunitas di Maros punya potensi dan gagasan yang perlu difasilitasi agar mereka bisa terus berkarya dan berkolaborasi,” ujar Bams.
Namun, di balik harapan tersebut, Bams turut menyoroti dukungan pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan kegiatan kepemudaan. Ia menilai peran Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Maros perlu dievaluasi, khususnya dalam memberikan dukungan terhadap inisiatif dan kegiatan yang tumbuh dari komunitas.
Menurutnya, kegiatan yang membuka ruang kreativitas dan kolaborasi pemuda semestinya mendapat perhatian serta dukungan yang memadai dari perangkat daerah yang memiliki tanggung jawab di bidang kepemudaan dan olahraga.
“Disparpora seharusnya menjadi salah satu perangkat daerah yang paling aktif mendorong kegiatan kepemudaan. Ketika komunitas berinisiatif menghadirkan ruang kreatif seperti MCF, dukungan pemerintah semestinya bisa dirasakan secara konkret, bukan sekadar berhenti pada slogan tentang pentingnya peran pemuda,” tegasnya.
Bams menekankan bahwa dukungan tersebut tidak harus selalu berbentuk pembiayaan. Pemerintah dapat mengambil peran melalui fasilitasi ruang kegiatan, penyediaan sarana dan prasarana, kemudahan koordinasi, serta membuka akses kolaborasi bagi komunitas yang memiliki program positif.
Ia berharap pemerintah daerah dan Disparpora dapat membangun pola dukungan yang lebih nyata terhadap komunitas di Maros. Menurutnya, anak muda tidak seharusnya terus bergerak sendiri dalam menghadirkan kegiatan yang bermanfaat, sementara dukungan kelembagaan yang dibutuhkan belum optimal.
“MCF ini harus menjadi momentum untuk membuka lebih banyak ruang bagi komunitas. Kami berharap ke depannya pemerintah dan Disparpora lebih hadir, lebih peduli, dan lebih terbuka terhadap inisiatif anak muda. Jangan sampai kreativitas pemuda hanya diapresiasi dalam pidato, tetapi ketika mereka menghadirkan kegiatan nyata justru minim dukungan,” tutup Bams.
Bagi Bams, perkembangan pemuda membutuhkan lebih dari sekadar imbauan dan program formal. Ruang berekspresi, dukungan kelembagaan, dan keberpihakan pada inisiatif komunitas merupakan bagian penting untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan di Kabupaten Maros. (**)













