MAROS — Di tengah tantangan cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang meningkatkan kerentanan lingkungan, pengelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bonto Ramba di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, mengambil langkah proaktif. Upaya intensif terus digencarkan guna menekan timbulnya bau menyengat serta meminimalisir risiko kebakaran yang mengintai akibat penumpukan sampah.
Pengawas lapangan TPA Bonto Ramba, Muhammad Ahmad Fudael, menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin melakukan penataan dan pengurukan timbunan sampah setiap tujuh hari sekali. Proses krusial ini memanfaatkan dua unit alat berat berjenis ekskavator, yakni PC 195 dan PC 135, untuk mempercepat perataan serta pemadatan material sampah di area pemrosesan.
“Langkah tersebut menjadi bagian dari pengendalian timbunan sampah, sekaligus membantu mengurangi bau serta menekan risiko gas hasil pembusukan sampah menyebar ke lingkungan sekitar,” ungkap Muhammad Ahmad Fudael saat ditemui di lokasi, Kamis (8/10).
Ia menambahkan, selain menjaga estetika dan kondisi TPA agar tetap terkontrol, pengurukan berkala ini merupakan strategi pencegahan kebakaran yang sangat vital. Timbunan sampah yang menggunung rentan memicu akumulasi gas di dalam tumpukan, yang jika dibiarkan di tengah cuaca panas ekstrem, berpotensi besar memicu percikan api dan kebakaran lahan.
Kendati demikian, operasional saat ini masih menghadapi tantangan keterbatasan armada. Pihak pengelola berharap ke depan ada penambahan unit alat berat agar proses penataan sampah dapat berjalan jauh lebih cepat, masif, dan intensif demi menjangkau seluruh zona pemrosesan.
Sebagai langkah inovatif dalam mitigasi risiko, pengelola TPA Bonto Ramba juga telah memasang sistem perpipaan khusus di zona aktif timbunan sampah. Pipa-pipa tersebut berfungsi secara aktif untuk menarik gas metana—gas rumah kaca yang terbentuk dari proses alami pembusukan sampah organik—agar tidak menumpuk dan memicu bahaya di dalam tumpukan.
Menariknya, pengelolaan gas metana ini tidak berhenti pada aspek pencegahan risiko semata. Pihak pengelola bahkan membuka peluang strategis agar gas metana yang berhasil diekstraksi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut di masa mendatang, sehingga bisa dimanfaatkan langsung untuk memenuhi berbagai kebutuhan energi alternatif bagi masyarakat sekitar.
Langkah komprehensif yang diterapkan di TPA Bonto Ramba ini membuktikan bahwa paradigma pengelolaan sampah modern telah bergeser. Penanganan tidak lagi sekadar berfokus pada pembuangan akhir, melainkan telah diintegrasikan secara serius ke dalam kerangka mitigasi risiko lingkungan sekaligus pemanfaatan potensi energi berkelanjutan dari sisa aktivitas perkotaan. (Ac)













