MAROS, Tujuhdetiknews.com — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros terus menunjukkan komitmen nyata dalam membenahi dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi para warga binaan, khususnya kelompok rentan lanjut usia (lansia). Langkah strategis ini diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Lapas Kelas IIB Maros dengan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Senin (12/10/2026).
Kerja sama yang terjalin ini menjadi tonggak penting dalam mendukung keberhasilan proyek perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II (PKN II) Tahun 2026. Fokus utama dari sinergi ini adalah mengimplementasikan inovasi program bertajuk Strategi Pelayanan Holistik Terintegrasi bagi Warga Binaan Lansia Pemasyarakatan (SAPA LANSIA PAS).
Program SAPA LANSIA PAS dirancang secara khusus untuk menghadirkan sistem pelayanan pemasyarakatan yang komprehensif, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan individual. Melalui kolaborasi ini, Lapas Maros dan FK Unhas fokus pada penguatan tahapan assessment atau penilaian kebutuhan dasar bagi para warga binaan lansia, sekaligus mengembangkan dukungan layanan yang selaras dengan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM).
Prosesi penandatanganan PKS yang berlangsung dalam suasana hangat tersebut dihadiri langsung oleh jajaran pejabat akademik Unhas, di antaranya Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Unhas, Rusdina Bte Ladju, serta Ketua Program Studi (Kaprodi) Psikologi, Ichlas Nanang Afandi.
Keterlibatan aktif dari Program Studi Psikologi FK Unhas dinilai menjadi elemen krusial. Keahlian para pakar psikologi dibutuhkan untuk memetakan dan mengidentifikasi kondisi psikologis, dinamika sosial, serta tingkat kesejahteraan mental para lansia yang berada di balik jeruji besi. Hasil assessment komprehensif ini nantinya akan dijadikan pijakan utama dalam merumuskan dan menyusun skema pelayanan yang relevan serta tepat sasaran.
Sebagai bagian integral dari proyek perubahan PKN II, SAPA LANSIA PAS menempatkan proses assessment awal sebagai kunci utama. Dengan mengidentifikasi potensi kerentanan serta kebutuhan spesifik fisik maupun mental sejak dini, intervensi dan bantuan yang diberikan Lapas Maros kepada para lansia dipastikan dapat terukur, humanis, dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar program rutin, kemitraan strategis ini diarahkan penuh untuk memperkuat pilar-pilar pelayanan berbasis HAM. Lapas Maros ingin memastikan bahwa setiap warga binaan yang telah memasuki usia senja tetap mendapatkan perlakuan yang layak, adil, manusiawi, serta bebas dari segala bentuk diskriminasi. Pendekatan holistik ini menempatkan penghormatan atas martabat kemanusiaan, pemenuhan hak-hak dasar, serta perhatian khusus pada kondisi kesehatan fisik, mental, dan sosial sebagai skala prioritas utama.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, mengemukakan bahwa kolaborasi lintas sektor ini merupakan cerminan dari komitmen mendalam instansinya dalam mentransformasi wajah pelayanan pemasyarakatan agar semakin inklusif.
“Melalui proyek perubahan SAPA LANSIA PAS dalam PKN II ini, kami ingin memperkuat assessment sebagai dasar utama pemberian layanan yang tepat. Kami bertekad memastikan setiap warga binaan lansia mendapatkan dukungan pelayanan yang humanis dan memegang teguh prinsip-prinsip HAM. Kami optimistis, sinergi erat bersama Fakultas Kedokteran Unhas ini mampu memberikan kontribusi nyata dan berdampak positif langsung terhadap peningkatan kualitas hidup warga binaan lansia di Lapas Maros,” tegas Ali Imran.
Dengan diresmikannya kerja sama ini, Lapas Kelas IIB Maros dan Fakultas Kedokteran Unhas optimis mampu menciptakan tolok ukur (benchmark) baru dalam pengelolaan dan pemenuhan hak warga binaan lansia di lembaga pemasyarakatan. Sinergi ini diharapkan menjadi fondasi kokoh untuk mendorong terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang lebih inklusif, ramah lansia, terintegrasi, dan berkelanjutan demi menjamin kesejahteraan lahir serta batin para warga binaan di masa mendatang. (Ac)













