MAROS — Pemandangan antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sepanjang jalur poros Maros–Pangkep kembali menjadi sorotan publik. Kendaraan yang mengular hingga menggunakan bahu dan badan jalan kerap dikeluhkan pengguna jalan karena dinilai memicu kemacetan parah serta membahayakan keselamatan berlalu lintas.
Menanggapi persoalan tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Maros mengakui bahwa fenomena antrean SPBU kini telah menjadi salah satu hambatan utama kelancaran arus lalu lintas di jalur lintas kabupaten tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, H. A. Abbas Maskur, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Langkah cepat telah diambil dengan membangun koordinasi lintas sektor guna memetakan sekaligus mencari formulasi solusi atas persoalan menahun ini.
“Langkah awal yang pernah kami lakukan, kami undang stakeholder yang terkait, termasuk para pelaku usaha SPBU yang ada di Maros. Kami undang bersama anggota, termasuk Pak Kasatlantas sendiri, untuk melakukan koordinasi bagaimana kira-kira solusi atau langkah-langkah yang harus kita ambil,” ujar Abbas saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/10/2026).
Dari hasil koordinasi tersebut, Abbas mengungkapkan bahwa para pengelola SPBU pada dasarnya menyambut baik dan bersikap kooperatif. Pemilik usaha bahkan berkeinginan untuk menata armada langganan mereka agar masuk penuh ke dalam area SPBU.
Namun, niat baik tersebut berbenturan dengan realitas di lapangan. Mayoritas area SPBU di sepanjang jalur poros tidak memiliki daya tampung lahan yang memadai, terutama bagi armada kendaraan besar atau truk bermuatan berat yang membutuhkan ruang parkir luas.
“Pihak SPBU ini merespons baik. Beliau ingin melakukan dengan langganan armada-armada yang masuk di SPBU itu ingin menampung, cuma keterbatasan lokasi yang ada di SPBU itu juga menjadi masalah,” jelasnya.
Di samping langkah persuasif bersama pengelola, Dishub Maros juga terus menyiagakan petugas di titik-titik rawan kemacetan. Pengawasan difokuskan pada jam-jam sibuk, yakni pagi dan sore hari, guna mengingatkan para sopir agar tidak memarkir kendaraan secara sembarangan di badan jalan.
Kendati demikian, Abbas mengakui penertiban di lapangan menghadapkan petugas pada posisi yang dilematis. Di satu sisi, kelancaran arus lalu lintas wajib dijaga, tetapi di sisi lain, para pengemudi memiliki kebutuhan mendesak untuk mendapatkan bahan bakar demi melanjutkan perjalanan.
“Kondisinya memang sangat-sangat memprihatinkan, bahwa sopir ini mempunyai kebutuhan atau kepentingan yang juga mendesak. Barangkali juga kita pahami bahwa kalau kita melakukan tindakan yang lebih, pastinya sopir juga akan mengambil tindakan yang tidak kita inginkan,” terangnya.
Pendekatan humanis pun terpaksa diambil agar penataan lalu lintas tidak memicu gesekan atau aksi protes dari para pengemudi armada di lapangan.
Persoalan lain yang membayangi efektivitas pengawasan adalah keterbatasan jumlah personel Dishub Maros. Meskipun penugasan telah diatur melalui surat resmi hingga hari libur dan akhir pekan, jumlah anggota yang minim acap kali membuat pengawasan tidak berjalan optimal.
“Kami tetap melakukan pengawasan, tetap memberikan tugas kepada teman-teman atau bawahan kami untuk melakukan penguraian. Kami berikan tugas di pagi hari dan sore hari,” tegas Abbas.
Namun, faktor kelayakan fisik dan kendala mendadak juga memengaruhi kehadiran personel di lokasi penugasan.
“Adapun kondisi lapangan, anggota kami itu terkadang juga tidak maksimal. Kenapa? Disebabkan penugasan dan jumlah orang yang terbatas juga, terkadang ada yang tidak datang, ada yang sakit. Itu barangkali yang memberikan bahwa tidak nampak di lapangan, padahal dia bertugas di hari-hari tersebut,” tuturnya menambahkan.
Penanganan persoalan antrean kendaraan di bahu jalan ini membutuhkan komitmen berkelanjutan dari segenap pihak—mulai dari sinergi Dishub, Satlantas Polres Maros, komitmen pengelola SPBU, hingga kesadaran para sopir. Penataan jalur antrean yang terintegrasi menjadi kunci utama agar aktivitas perekonomian warga dan kelancaran lalu lintas di jalur utama Maros–Pangkep tetap berjalan seimbang. (Ac)













