BARRU — Dunia pemasyarakatan kerap kali dihadapkan pada berbagai stigma, tantangan, dan persepsi publik yang kompleks. Menyadari hal tersebut, Kepala Rumah Tahanan Negara (Karutan) Kelas IIB Barru, Hardiman, mengambil langkah terbuka dengan menegaskan komitmen penuh jajarannya untuk terus berbenah, melakukan evaluasi, serta menghadirkan perubahan nyata dalam sistem pelayanan dan pembinaan bagi warga binaan.
Di tengah dinamika penegakan hukum dan pengayoman masyarakat, Hardiman secara blak-blakan mengakui bahwa institusi yang dipimpinnya belum sepenuhnya sempurna. Kendati demikian, ia memastikan bahwa tekad untuk memberikan yang terbaik tidak pernah surut.
“Pemasyarakatan memang belum sempurna, tapi kami selalu berusaha menjadi yang lebih baik,” ujar Hardiman saat ditemui di ruang kerjanya di Barru, Senin (26/10/2026).
Pernyataan ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang humanis dan transparan. Hardiman menyadari bahwa institusi pemasyarakatan tidak boleh lagi berjalan dengan pola-pola kaku yang tertutup. Sebaliknya, pendekatan persuasif dan dialogis harus dikedepankan demi menciptakan lingkungan rutan yang kondusif, aman, serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.
Lebih lanjut, Hardiman menekankan bahwa pintu Rutan Barru selalu terbuka bagi siapa saja, terutama bagi para narapidana yang ingin menyampaikan aspirasi maupun keluh kesah mereka. Komunikasi dua arah dinilai menjadi kunci utama untuk meredam potensi gesekan sosial di dalam rutan sekaligus memastikan hak-hak dasar warga binaan terpenuhi tanpa diskriminasi.
“Kami di sini selalu terbuka, menerima langsung keluhan-keluhan narapidana. Kami ingin mereka tetap merasa diperlakukan secara manusiawi,” tegas Hardiman dengan penuh penekanan.
Bagi Hardiman, pendekatan humanis bukan sekadar slogan, melainkan kewajiban moral. Warga binaan yang sedang menjalani masa pidana di Rutan Barru dipandang sebagai manusia yang sedang menempuh proses pemulihan diri. Oleh karena itu, perlakuan yang adil, layak, dan memanusiakan manusia menjadi fondasi utama dalam setiap program pembinaan kepribadian maupun kemandirian yang diselenggarakan.
Ia menambahkan bahwa segala bentuk masukan, kritik, maupun saran—baik yang datang dari internal warga binaan maupun dari pihak keluarga—selalu ditampung dengan tangan terbuka. Setiap laporan atau keluhan yang masuk akan langsung ditindaklanjuti secara cepat dan transparan sesuai dengan koridor aturan hukum dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Meski demikian, Hardiman menyadari bahwa transformasi total di lingkungan pemasyarakatan tidak bisa dicapai hanya dengan kerja internal rutan semata. Dukungan eksternal dari berbagai elemen masyarakat, lembaga swadaya, instansi terkait, hingga insan pers atau media massa sangat dibutuhkan guna mengawal jalannya roda pembinaan di Rutan Barru agar tetap berada di jalur yang benar.
“Kami sangat berharap adanya dukungan dari semua pihak, termasuk media dan masyarakat luas, agar program pembinaan di Rutan Barru bisa berjalan secara optimal. Harapan besar kami, ketika warga binaan ini nantinya selesai menjalani masa hukuman dan kembali ke tengah masyarakat, mereka telah siap menjadi pribadi yang lebih baik, produktif, dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya,” pungkas Hardiman.
(Safar)













