MAROS — Direktur RSUD dr. La Palaloi Maros, dr. Sri Syamsinar, akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi tegas terkait isu yang beredar di tengah masyarakat. Ia secara resmi membantah adanya komunikasi dari jajaran manajemen rumah sakit kepada pihak media yang meminta penghapusan atau takedown pemberitaan mengenai polemik pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sempat menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh dr. Sri Syamsinar saat ditemui awak media di ruang Humas RSUD dr. La Palaloi Maros pada Jumat (30/10/2026). Ia menegaskan bahwa sejak polemik ini mencuat, manajemen rumah sakit tidak pernah sekalipun menghubungi media massa untuk meminta konten berita yang diterbitkan agar diturunkan.
“Selama kejadian ini terjadi, kami dari manajemen rumah sakit tidak ada komunikasi dengan teman-teman media,” tegas dr. Sri Syamsinar di hadapan para jurnalis.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa langkah komunikasi resmi yang ditempuh pihak manajemen selama ini berfokus pada penyampaian hak jawab dan klarifikasi secara transparan. Hal itu dilakukan melalui unggahan di akun Instagram resmi RSUD dr. La Palaloi serta melayani secara langsung pihak-pihak yang datang langsung ke kantor manajemen untuk melakukan konfirmasi.
Kendati demikian, dr. Sri Syamsinar tidak menampik bahwa ada sejumlah pihak yang berupaya melakukan konfirmasi jarak jauh melalui pesan singkat WhatsApp. Namun, pihak manajemen memilih untuk tidak merespons pesan-pesan tersebut demi menjaga akurasi dan menghindari kesalahpahaman informasi.
“Intinya kami hanya menerima yang datang, kemudian ada beberapa yang meng-crosscheck via WhatsApp dan segala macam, itu kami tidak balas. Intinya yang datang ke rumah sakit, itu yang kami layani,” tambahnya.
Menanggapi dinamika pemberitaan yang kian masif di berbagai platform, dr. Sri Syamsinar mengungkapkan bahwa pihak internal rumah sakit telah menggelar rapat khusus. Rapat ini digelar guna membahas langkah strategis apa saja yang perlu diambil oleh manajemen ke depan.
Ia menilai, eskalasi pemberitaan yang beredar belakangan ini sudah mulai berkembang dan melenceng jauh dari substansi atau konteks kejadian yang sebenarnya di lapangan. Meski demikian, hingga saat ini manajemen rumah sakit masih sebatas melakukan koordinasi internal dan belum memutuskan apakah akan menempuh langkah hukum atau langkah formal lainnya.
“Sejauh ini kami baru rapat internal terkait langkah apa selanjutnya yang mau kami ambil, karena pemberitaan yang hari ini dan kemarin memang sudah terlalu jauh menyimpang sebenarnya,” ungkapnya blak-blakan.
Sebagai pengingat, polemik ini bermula ketika salah satu keluarga pasien melayangkan keluhan publik setelah membawa orang tua mereka berobat ke IGD RSUD dr. La Palaloi pada Senin (26/10/2026) sekitar pukul 12.00 WITA. Dalam keluhannya, keluarga pasien menyoroti standar pelayanan rumah sakit, terkhusus pada sikap dan respon dari petugas keamanan (security) yang bertugas saat itu.
Menanggapi hal tersebut, dr. Sri Syamsinar sebelumnya telah membeberkan bahwa pada saat insiden terjadi, kapasitas tempat tidur di ruang IGD sedang penuh (overcapacity). Ia juga mengakui adanya indikasi miskomunikasi atau kesalahan koordinasi antara tenaga medis di IGD dan petugas keamanan yang bertugas di lokasi.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan manajerial, pihak RSUD dr. La Palaloi langsung bergerak cepat dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap petugas yang bersangkutan, sekaligus berkoordinasi secara intensif dengan pihak ketiga selaku pengelola jasa keamanan.
Melalui klarifikasi komprehensif ini, dr. Sri Syamsinar berharap masyarakat Kabupaten Maros dan sekitarnya dapat melihat persoalan secara objektif berdasarkan fakta yang ada. Manajemen RSUD dr. La Palaloi Maros juga berkomitmen untuk terus menjadikan insiden ini sebagai bahan introspeksi guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien di masa mendatang. (Ac)













