MAROS — Di tengah dinamika cuaca yang mulai menunjukkan perubahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros mengambil sikap tegas untuk tidak mengendurkan pelayanan kepada masyarakat. Meskipun hujan sempat mengguyur sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah daerah memastikan bahwa program penyaluran bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan akan terus berlanjut tanpa henti.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Maros, Towadeng, S.H., menegaskan bahwa kemunculan titik-titik hujan belakangan ini belum bisa dijadikan patokan untuk menghentikan distribusi air bersih. Terutama bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir, kebutuhan pasokan air bersih untuk menunjang aktivitas harian masih menjadi urgensi yang mendesak dan tidak boleh diabaikan begitu saja.
Pernyataan tersebut disampaikan Towadeng secara langsung saat ditemui di Kantor BPBD Maros pada Jumat (30/10/2026). Ia memaparkan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan hasil koordinasi intensif pihaknya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan yang turun baru-baru ini merupakan fenomena peralihan atau pertanda awal menjelang musim hujan, dan bukan indikasi bahwa musim hujan yang sebenarnya telah tiba secara menyeluruh.
Lebih lanjut, rilis resmi BMKG memperkirakan bahwa puncak permulaan musim hujan di Kabupaten Maros baru akan terjadi pada pertengahan Desember 2026 mendatang. Artinya, sepanjang bulan November yang akan segera datang, intensitas hujan diprediksi masih berada dalam kategori relatif rendah dan belum stabil.
“Memang beberapa waktu yang lalu sudah ada hujan turun. Tetapi berdasarkan koordinasi dengan BMKG, fenomena kemarin itu merupakan awal dari musim hujan, belum memasuki musim hujan,” jelas Towadeng dengan lugas.
Tidak hanya fokus pada pemenuhan air bersih rumah tangga, Towadeng juga melayangkan imbauan penting kepada masyarakat luas, khususnya para petani di Kabupaten Maros. Ia meminta agar para petani tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa turunnya hujan saat ini menjadi tanda dimulainya musim tanam baru, mengingat volume curah hujan dalam beberapa pekan ke depan masih diprediksi minim dan belum mencukupi kebutuhan irigasi skala besar.
Menyoal keberlanjutan armada distribusi, Towadeng mengungkapkan bahwa Bupati Maros secara khusus telah mengeluarkan instruksi agar suplai bantuan air bersih tidak diputus secara sepihak sebelum benar-benar dipastikan bahwa kebutuhan dasar warga telah tercukupi dengan baik.
Beberapa wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan ekstrem dan pusat perhatian utama adalah kawasan pesisir, yang meliputi Kecamatan Bontoa, Kecamatan Lau, serta Kecamatan Marusu. Di wilayah-wilayah ini, ketersediaan air bersih sangat bergantung pada intervensi pemerintah karena sumber air sumur warga kerap mengalami kekeringan atau payau saat musim kemarau panjang.
Berdasarkan agenda awal, jadwal penyaluran bantuan air bersih tahap kedua sejatinya direncanakan rampung pada awal bulan November. Namun, menimbang kondisi di lapangan, pemerintah daerah dengan sigap membuka ruang diskresi untuk memperpanjang masa distribusi tersebut jika masyarakat masih menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan air bersih dari pemerintah.
“Penyaluran air bersih tidak boleh kita hentikan sampai benar-benar dipastikan kebutuhan air bersih masyarakat, terutama masyarakat pesisir, sudah dapat terpenuhi untuk kebutuhan standar,” tegas Towadeng menekankan komitmen lembaganya.
Di samping itu, pihak BPBD juga meminta agar masyarakat tidak mudah terpancing atau merasa cemas oleh isu-isu yang beredar di tengah warga, yang mengeklaim bahwa pengiriman truk tangki air akan segera dihentikan lantaran hujan sudah mulai turun. BPBD Maros menjamin bahwa armada bantuan akan tetap beroperasi fleksibel sesuai dengan laporan riil kebutuhan di lapangan serta arahan langsung dari pimpinan daerah.
Ketika disinggung mengenai batas akhir penyaluran bantuan yang dibiayai melalui pos anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) tahap kedua yang dijadwalkan tutup buku pada 31 Oktober 2026, Towadeng memberikan kepastian bahwa mekanisme tersebut akan tetap diperpanjang demi kemanusiaan.
Ia menerangkan bahwa instrumen keuangan BTT pada dasarnya diciptakan untuk memberikan keleluasaan bagi pemerintah daerah dalam bergerak secara cepat dan fleksibel, khususnya dalam hal penanganan situasi darurat bencana dan mitigasi dampaknya terhadap masyarakat.
“BTT ini memberikan ruang kepada kami dalam bentuk flexible. Sehingga apabila sudah dikalkulasi ada yang memungkinkan untuk tetap kita salurkan, maka tetap akan kita salurkan,” pungkasnya menutup keterangan.
Melalui langkah proaktif dan kebijakan yang berpihak langsung pada keselamatan warga ini, BPBD Maros berharap masyarakat tetap merasa tenang dan terlindungi. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengawal ketersediaan air bersih ini hingga musim hujan benar-benar datang secara merata dan normal di seluruh wilayah Kabupaten Maros. (Ac)













