MAKASSAR — Warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas di Jalan Poros Paccerakkang, tepatnya di depan area tempat cuci mobil dan Kampus Gizi, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, mengeluhkan kondisi kemacetan parah yang terjadi setiap sore hingga malam hari.
Kemacetan total ini dipicu oleh pengerjaan proyek drainase yang dinilai lamban dan mangkrak. Warga menyoroti keberadaan alat berat jenis excavator yang sudah kurang lebih dua bulan mangkrak dan hanya dibiarkan terparkir di bahu jalan tanpa adanya aktivitas pengerjaan yang signifikan.
Kondisi ini tidak hanya dikeluhkan oleh warga Kelurahan Berua dan Kelurahan Daya, tetapi juga para pengendara yang setiap hari harus berjibaku dengan kemacetan panjang saat pulang beraktivitas.
Salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, proyek pemerintah seharusnya memperlancar aliran air, namun justru menjadi sumber bencana kemacetan baru bagi masyarakat.
“Kemacetan di sini terjadi terus menerus, terutama sore sampai malam. Alat berat excavator itu sudah hampir dua bulan di situ, tapi pekerjaannya tidak ada kejelasan. Jalan jadi semakin menyempit,” keluhnya.
Dampak Nyata: Dari Penurunan Omset Pedagang hingga Korban Jiwa
Dampak dari mangkraknya proyek ini ternyata dirasakan jauh lebih luas oleh masyarakat, terutama para pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Sejumlah penjual dan pemilik kios di pinggir jalan mengeluhkan penurunan omset yang drastis.
Mereka merasa sangat terganggu dengan kondisi lingkungan yang semrawut, berdebu, dan akses pembeli yang tertutup material proyek. Timbul pertanyaan besar di benak warga, di tengah kerugian dan penderitaan yang dialami masyarakat serta pedagang kecil, sebenarnya siapa pihak yang diuntungkan dari lambatnya pengerjaan proyek ini? Apakah para pekerja proyek atau pihak kontraktor yang justru mendapatkan keuntungan dari molornya tenggat waktu?
Lebih mengkhawatirkan lagi, situasi ini tidak sekadar menimbulkan kerugian materiil dan kemacetan, tetapi telah memakan korban jiwa. Warga sekitar menginformasikan bahwa sudah ada pengendara yang menjadi korban kecelakaan akibat kondisi jalan yang menyempit dan minimnya rambu peringatan di sekitar proyek, hingga korban tersebut harus dilarikan ke fasilitas medis dan mengalami luka jahit.
Minimnya Transparansi dan Tuntutan Warga
Selain lambannya pengerjaan, warga juga mempertanyakan transparansi proyek tersebut. Pasalnya, hingga saat ini tidak ditemukan adanya papan informasi proyek (papan plang) di sekitar lokasi pengerjaan. Ketidakjelasan ini memunculkan tanda tanya besar di kalangan warga terkait instansi mana yang bertanggung jawab serta besaran anggaran yang digunakan.
Melihat kondisi yang semakin membahayakan keselamatan publik, warga Kelurahan Berua, Daya, dan para pengguna jalan mendesak pihak terkait untuk segera mengambil langkah nyata:
- Segera Melanjutkan Pengerjaan: Meminta kontraktor atau dinas terkait untuk mempercepat penyelesaian drainase agar tidak berlarut-larut dan menimbulkan korban susulan.
- Menertibkan Alat Berat: Memindahkan atau mengoperasikan kembali alat berat yang memakan badan jalan agar arus lalu lintas kembali lancar.
- Transparansi Proyek: Memasang papan informasi proyek sesuai dengan prinsip keterbukaan informasi publik agar masyarakat mengetahui kejelasan instansi dan anggaran yang digunakan.
Masyarakat Kelurahan Berua, Daya, dan para pengguna jalan berharap Pemerintah Kota Makassar melalui instansi terkait atau pihak kecamatan/kelurahan segera turun tangan meninjau langsung ke lokasi untuk mengurai kemacetan serta menginvestigasi mandeknya proyek yang kian meresahkan ini. (Ac)













