MAROS, TUJUHDETIKNEWS — Dalam upaya mempercepat transformasi pertanian tradisional menuju era digitalisasi dan modernisasi, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tompobulu bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tompobulu menggelar kegiatan studi lapang strategis ke Balai Perakitan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kabupaten Maros.
Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Koordinator BPP Pertanian Tompobulu, Muhlis, S.P., dengan memboyong rombongan yang terdiri dari para penyuluh pertanian lapangan (PPL) serta perwakilan kelompok tani dari 8 desa se-Kecamatan Tompobulu. Langkah kolaboratif ini bertujuan untuk menyerap teknologi budidaya dan perakitan alat pertanian terbaru guna diterapkan secara masif di wilayah Tompobulu.
Dorong Petani Kembangkan Alat Tanam PM-AAS Mandiri
Ketua KTNA Kecamatan Tompobulu, Abdul Jalil, menyampaikan bahwa kunjungan studi lapang ini bukan sekadar agenda seremoni, melainkan momentum penting transfer teknologi bagi para pengolah lahan di tingkat tapak.
“Kami sangat berharap sekembalinya dari studi lapang di BRMP Maros ini, teman-teman petani memiliki wawasan mendalam dan mampu secara mandiri membuat serta mengoperasikan alat tanam padi berbasis sistem PM-AAS (Pertanian Modern / Advanced Agricultural System). Adopsi teknologi inovatif ini kunci utama efisiensi kerja petani di sawah,” ujar Abdul Jalil di sela-sela kegiatan.
Sistem PM-AAS sendiri menekankan pada pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang menggabungkan efisiensi mekanisasi, penggunaan varietas unggul, serta presisi dalam pemeliharaan lahan dan pembibitan.
Komitmen Tindak Lanjut Program Kementerian Pertanian
Sementara itu, Koordinator BPP Tompobulu, Muhlis, S.P., menegaskan bahwa agenda ini merupakan bentuk komitmen konkret daerah dalam mendukung dan menindaklanjuti program strategis Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Muhlis menguraikan perbandingan signifikan antara pola tanam konvensional yang selama ini diterapkan petani dengan teknologi PM-AAS:
- Pola Tanam Konvensional: Rata-rata produktivitas lahan hanya mampu menghasilkan sekitar 5 hingga 7 ton per hektar.
- Pola Tanam PM-AAS: Mampu mendongkrak hasil panen secara maksimal hingga mencapai 9 hingga 10 ton per hektar.
“Peningkatan hasil hingga 10 ton per hektar ini adalah lompatan besar. Jika pola PM-AAS ini konsisten kita terapkan di 8 desa se-Kecamatan Tompobulu, maka kesejahteraan petani akan meningkat drastis seiring dengan melonjaknya hasil panen,” jelas Muhlis optimis.
Ditinjau Langsung di Loka Percontohan BRMP Maros
Guna memberikan pemahaman praktis, pihak BRMP Maros yang diwakili oleh Rusman, S.P., mengajak seluruh rombongan penyuluh dan petani turun langsung ke lapangan. Mereka meninjau plot percontohan pengaplikasian pola tanam padi PM-AAS yang tengah dikembangkan di area laboratorium lapangan BRMP Maros.
Para petani dan penyuluh mendapatkan penjelasan teknis secara mendalam, mulai dari proses persemaian khusus, mekanisasi penanaman, pemeliharaan berbasis presisi, hingga simulasi pengoperasian alat tanam modern. Antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya diskusi interaktif antara petani Tompobulu dan tim teknis BRMP Maros sepanjang peninjauan alur kerja PM-AAS.













