MAROS — Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros terus bergerak intensif guna mengatasi krisis air bersih yang melahirkan kesulitan bagi warga akibat dampak musim kemarau panjang dan ekstrem. Terbaru, operasi kemanusiaan ini difokuskan secara masif untuk menyasar masyarakat di wilayah Kecamatan Bantimurung yang mengalami krisis pasokan air bersih akut untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Berdasarkan pemantauan dan data di lapangan, jangkauan distribusi air bersih kali ini mencakup dua desa sekaligus, yakni Desa Alatengngae dan Desa Kalabbirang. Di Desa Alatengngae, wilayah yang tersentuh bantuan darurat mencakup empat dusun sekaligus, yaitu Dusun Tanete, Dusun Manjaling, Dusun Bonto Leko, serta Dusun Bontobuah. Perluasan wilayah ini dilakukan menyusul semakin meluasnya dampak kekeringan ekstrem yang dirasakan masyarakat setempat.
Terdapat penyesuaian strategi yang cukup krusial dalam pelaksanaan operasi kali ini. Jika pada masa tanggap darurat sebelumnya pihak BPBD Maros mengandalkan sumber air dari kawasan Bosowa di Desa Baruga, kini suplai terpaksa dialihkan. Langkah taktis ini diambil menyusul penurunan debit air yang signifikan di sumber mata air Bosowa, ditambah kendala jarak tempuh rute perjalanan yang memakan waktu dan tenaga lebih besar bagi armada tangki.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Maros, Towadeng, S.H., menerangkan bahwa penyesuaian ini merupakan bentuk langkah antisipasi cepat demi efektivitas pelayanan publik. Pasokan air bersih kini dialihkan dengan memanfaatkan fasilitas milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Bantimurung melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantimurung.
“Untuk pendistribusian air bersih di wilayah Bantimurung, kami gunakan air bersih dari IPA Bantimurung agar lebih memudahkan penyaluran di Desa Alatengngae dan Desa Kalabbirang. Diketahui desa-desa tersebut berada di wilayah kecamatan yang sama,” ujar Towadeng, S.H. saat dikonfirmasi, Minggu (4/10/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa selain faktor jarak yang jauh lebih dekat dengan lokasi sasaran, ketersediaan volume air di IPA Bantimurung saat ini terpantau masih relatif aman dan mencukupi untuk menopang kebutuhan darurat warga dalam jangka pendek.
“Jika menggunakan air dari Bosowa, rutenya cukup jauh dan debit airnya mulai berkurang. Olehnya itu, kita menggunakan air IPA Bantimurung selain mempermudah akses, ketersediaan airnya juga masih lumayan. Kami terus menggenjot distribusi air bersih ini kepada warga yang terdampak kelangkaan air di Kabupaten Maros,” tegasnya.
Tidak hanya menyasar permukiman warga secara langsung, armada distribusi air bersih dari TRC BPBD Maros juga memprioritaskan fasilitas umum keagamaan. Sejumlah masjid yang berada di beberapa dusun turut mendapatkan suplai air bersih guna memastikan kelancaran aktivitas ibadah masyarakat setempat selama masa krisis berlangsung.
Kendati dihadapkan pada tantangan operasional yang berat—mulai dari keterbatasan armada truk tangki, luasnya cakupan wilayah administratif, hingga kondisi cuaca yang tidak menentu—pihak BPBD Maros memastikan tidak akan mengendurkan komitmen pelayanan. Jajaran di lapangan terus berjuang tanpa kenal lelah, di mana TRC BPBD Maros aktif mendistribusikan air bersih setiap harinya hingga larut malam demi meringankan beban warga Kabupaten Maros yang masih berjuang di tengah hantaman kekeringan ekstrem berkepanjangan. (Ac)













