MAROS — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros terus menunjukkan komitmen nyata dalam menghadirkan tata kelola pemasyarakatan yang inklusif dan berorientasi pada hak asasi manusia. Langkah progresif ini diwujudkan melalui penguatan pelayanan bagi warga binaan lanjut usia (lansia) lewat pelaksanaan sosialisasi Program Strategi Pelayanan Holistik Terintegrasi Bagi Warga Binaan Lansia Pemasyarakatan (SAPA LANSIA PAS).
Kegiatan sosialisasi yang masif ini dilaksanakan di dua Unit Pelaksana Teknis (UPT) strategis, yakni Lapas Perempuan Kelas IIA Sungguminasa dan Lapas Kelas I Makassar. Peluncuran dan sosialisasi program ini merupakan bagian dari implementasi Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II (PKN II) Tahun 2026, yang diinisiasi untuk merancang model pelayanan pemasyarakatan yang jauh lebih terarah, terintegrasi, dan humanis bagi para warga binaan lansia.
Dari perspektif Lapas Maros, rangkaian kegiatan ini memegang peranan krusial sebagai langkah strategis dalam memperkenalkan SAPA LANSIA PAS secara mendalam. Tujuannya tidak hanya sebatas sosialisasi administratif, melainkan memperluas pemahaman lintas UPT mengenai pentingnya memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan fisik, mental, dan sosial warga binaan lanjut usia yang menjalani masa pembinaan.
Sinergi dan Pendekatan Komprehensif
Rangkaian kegiatan sosialisasi ini dirancang secara komprehensif agar dapat diserap dengan baik oleh jajaran petugas maupun warga binaan. Acara diawali dengan sesi pengenalan program secara menyeluruh, yang mencakup penjabaran tujuan utama, arah kebijakan, hingga manfaat jangka panjang dari SAPA LANSIA PAS.
Usai pemaparan visi program, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi modul khusus yang berfungsi sebagai pedoman teknis pelaksanaan pelayanan bagi warga binaan lansia. Modul ini disiapkan untuk memastikan bahwa pendekatan pelayanan yang diberikan benar-benar mengintegrasikan berbagai aspek kebutuhan khas lansia selama berada di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Tidak hanya berhenti pada tataran konseptual, sosialisasi ini juga membedah secara mendalam Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaksanaan program. Dengan adanya pedoman operasional yang jelas dan tersistematis, para petugas di lapangan diharapkan mampu menjalankan pelayanan secara konsisten, terukur, dan responsif. SOP ini juga dirancang untuk mendukung efektivitas pelaksanaan asesmen serta memastikan pemberian layanan kesehatan dan sosial yang tepat sasaran.
Hadirkan Suasana Humanis Lewat Ice Breaking
Ada yang menarik dalam rangkaian kegiatan sosialisasi tersebut. Guna mencairkan suasana dan membangun kedekatan emosional, kegiatan turut diisi dengan sesi games atau ice breaking bersama para warga binaan lansia.
Aktivitas interaktif ini terbukti efektif menjadi sarana untuk membangun interaksi yang positif antara petugas dan warga binaan. Selain meningkatkan keterlibatan aktif para lansia, pendekatan ini berhasil menghadirkan suasana yang hangat, ceria, dan menyenangkan. Pendekatan humanis semacam ini sejalan dengan roh utama SAPA LANSIA PAS, yang menempatkan peningkatan kualitas hidup dan kebahagiaan warga binaan lansia sebagai prioritas penting dalam penyelenggaraan sistem pemasyarakatan modern.
Perluas Dampak di Sulawesi Selatan
Melalui langkah masif ini, Lapas Maros optimistis bahwa sosialisasi SAPA LANSIA PAS akan menjadi katalisator penting dalam memperluas penerapan pelayanan holistik dan terintegrasi di seluruh lingkungan pemasyarakatan di Sulawesi Selatan.
Sebagai bagian dari proyek perubahan kepemimpinan, program inovatif ini diharapkan mampu memperkuat sinergi dan kolaborasi antar-UPT Pemasyarakatan se-Sulawesi Selatan. Pada akhirnya, program ini ditargetkan untuk terus meningkatkan kualitas pendampingan, memperkokoh perlindungan hak kelompok rentan, serta mewujudkan sistem pemasyarakatan yang benar-benar inklusif, humanis, dan bermartabat. (Ac)












