MAKASSAR – Suasana di sekitar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Kampus Cokroaminoto Makassar, mendadak mencekam. Antrean panjang kendaraan yang mengular demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kembali memicu insiden berdarah. Seorang sopir truk bernama Aswandi (30), warga Dusun Taroada, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, mejadi korban penikaman menggunakan senjata tajam jenis badik setelah terlibat cekcok mulut terkait urutan pengisian BBM.
Peristiwa ini bermula dari rasa lelah dan emosi yang memuncak akibat lamanya waktu tunggu di SPBU. Pelaku penikaman, Muh. Hendra alias Dg. Se’re (31), seorang sopir asal Buttadidi, Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, dikabarkan telah memarkirkan kendaraannya dan mengantre sejak pukul 02.30 WITA dini hari.
Setelah menunggu hampir tujuh jam dalam ketidakpastian, giliran pengisian pelaku akhirnya tiba sekitar pukul 09.44 WITA. Namun, saat kendaraan pelaku hendak maju menuju pompa pengisian, situasi mendadak memanas. Mobil truk yang dikemudikan oleh korban secara tiba-tiba masuk dan menyerobot jalur pengisian yang seharusnya menjadi hak pelaku.
Melihat jalurnya dipotong, pelaku menegur korban dan memintanya untuk memindahkan kendaraan. Korban sempat berdalih bahwa dirinya hendak mengisi produk Solar Dex, bukan solar bersubsidi. Meski telah diminta mengalah dan menggeser truknya, korban justru menolak dan tetap memajukan kendaraannya tepat di depan pompa pengisian jalur kendaraan besar. Tindakan tersebut memancing amarah pelaku yang sudah kelelahan menunggu sejak dini hari. Perselisihan sengit tak terhindarkan hingga berujung pada aksi penganiayaan berat. Pelaku melayangkan tikaman badik yang mengenai dada sebelah kanan bawah korban.
Aswandi yang bersimbah darah langsung dievakuasi oleh warga dan sesama sopir di lokasi kejadian menuju RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Sementara itu, sejumlah saksi mata di lokasi kejadian mengaitkan terduga pelaku sebagai salah satu pekerja di perusahaan jasa logistik B-LOG.
Tragedi berdarah ini menambah daftar panjang riwayat konflik antarsopir di Sulawesi Selatan akibat semrawutnya tata kelola dan distribusi antrean BBM bersubsidi di lapangan. Rasa frustrasi para sopir yang harus mengorbankan waktu kerja hingga berjam-jam demi mendapatkan BBM kerap menjadi pemicu gesekan emosional yang rawan berujung pada tindak kriminalitas. (Achil)













