Tujuhdetiknews.com, Maros – Pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqamah Pusat Maccopa, Ustadz Mufassir Arif, Lc., MA., bersiap melayangkan surat resmi kepada Rektor UIN Alauddin Makassar. Langkah ini diambil menyusul tayangnya tulisan opini berjudul “Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros di Pusaran Konflik: Santri Jadi Korban” karya Prof. Dr. H. Munawir K., S.Ag., M.Ag. di situs web resmi kampus tersebut.
Ustadz Mufassir menilai tulisan tersebut tidak memiliki landasan argumentasi yang kuat serta tidak menyajikan informasi yang berimbang dari pihak pesantren, sehingga tidak selayaknya dipublikasikan di portal resmi institusi perguruan tinggi.
“Kami akan bersurat untuk meminta klarifikasi atas opini yang memberikan kesan negatif pada lembaga kami. Kami menilai tidak ada kepentingan bagi UIN Alauddin sebagai lembaga pendidikan tinggi untuk mengangkat isu lembaga lain, apalagi tanpa argumentasi kuat dan informasi berimbang,” tegas Ustadz Mufassir, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, publikasi tersebut dinilai mencederai etika akademik yang seharusnya mengedepankan objektivitas, verifikasi fakta, integritas ilmiah, serta penyampaian informasi yang akurat. Langkah bersurat ini ditempuh demi mendapatkan penjelasan terbuka sekaligus menjaga nama baik pesantren yang telah lama membina umat.
“Kami berharap setiap lembaga senantiasa menjaga sikap saling menghormati dan menghindari hal-hal yang berpotensi mengganggu hubungan baik antarlembaga pendidikan,” tambahnya.
Menanggapi dinamika ini, Ketua DPD LIDIK PRO Maros, Ismar, S.H., menegaskan bahwa kendati kebebasan berpendapat dan kebebasan akademik harus dihormati, setiap kritik yang menyasar lembaga publik tetap harus didasari fakta akurat dan proses verifikasi yang memadai.
“Kritik konstruktif tentu menjadi masukan berharga. Namun, kritik yang tidak didukung fakta berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Setiap opini yang memengaruhi nama baik lembaga seyogianya disusun berdasarkan data dan memberikan ruang yang sama bagi semua pihak untuk didengar,” ujar Ismar.
Ismar juga menyampaikan apresiasinya atas sikap Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah yang memilih jalur diplomasi resmi untuk menyelesaikan persoalan ini.
“Kami mendukung penyelesaian melalui dialog dan klarifikasi. Semua pihak hendaknya mengedepankan etika, menghormati proses yang berlaku, serta menjaga marwah dunia pendidikan,” pungkasnya.













