MAROS — Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam memperkuat sektor pertanian dan menjaga ketahanan pangan nasional terus dibuktikan di lapangan. Pada Jumat, 25 September 2026, jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros melaksanakan kegiatan monitoring secara intensif terhadap pelaksanaan program Optimasi Lahan (Oplah) Non Rawa di Kecamatan Turikale dan Kecamatan Mandai.
Program Oplah Non Rawa sendiri merupakan salah satu program strategis nasional dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Inisiatif ini dirancang khusus untuk meningkatkan ketersediaan air serta mendongkrak produktivitas di lahan pertanian yang bukan berkarakteristik rawa, seperti halnya kawasan sawah tadah hujan yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan musiman.
Melalui program ini, pemerintah menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) yang signifikan bagi para petani. Jika sebelumnya para petani hanya mampu memanen sekali dalam setahun (IP 100), dengan ketersediaan infrastruktur air yang memadai, indeks tersebut diharapkan dapat melonjak menjadi IP 200 bahkan lebih. Hal ini tentu akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani sekaligus menjadi pilar penting dalam menyukseskan program swasembada pangan nasional.
Kabupaten Maros sendiri tercatat sebagai salah satu daerah penerima alokasi program Oplah yang cukup besar. Sebanyak 124 kelompok tani yang mencakup total luas lahan mencapai 3.200 hektare telah ditetapkan sebagai penerima manfaat. Lahan-lahan tersebut tersebar secara merata di 14 kecamatan di wilayah Kabupaten Maros.
Bentuk dukungan nyata dari program Oplah Non Rawa ini difokuskan pada penyediaan serta optimalisasi infrastruktur sumber-sumber air bagi petani. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan fisik disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik wilayah masing-masing, di antaranya pembangunan sumur bor, pengadaan jaringan irigasi perpompaan, perbaikan irigasi tersier, hingga instalasi irigasi perpipaan. Menariknya, seluruh proses pelaksanaannya dikelola dan dikerjakan secara mandiri oleh kelompok tani setempat (swakelola), sehingga benar-benar sesuai dengan potensi dan kearifan lokal daerah masing-masing.
Dalam kegiatan monitoring di lapangan tersebut, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros, Syamsul Bahri, memberikan sejumlah catatan penting terkait progres pengerjaan yang sedang berlangsung.
“Monitoring hari ini kami lakukan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan fisik infrastruktur air berjalan sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi yang ada. Kami ingin melihat langsung sejauh mana partisipasi aktif kelompok tani dalam merealisasikan program ini di Kecamatan Turikale dan Mandai,” ujar Syamsul Bahri di sela-sela peninjauan.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan program Oplah Non Rawa ini sangat bergantung pada rasa memiliki (sense of belonging) dari para petani penerima manfaat. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong kelompok tani untuk memaksimalkan pemanfaatan fasilitas air yang telah dibangun agar produktivitas lahan sawah tadah hujan di Maros dapat terus meningkat secara berkelanjutan.
Dengan adanya pengawalan ketat dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros optimistis target peningkatan Indeks Pertanaman dan swasembada pangan di Bumi Turikale dapat tercapai dengan gemilang.(AC)













