MAROS — Di tengah gelombang pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kondisi memprihatinkan justru dirasakan oleh para pasien rawat inap di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Alih-alih mendapatkan kenyamanan dan ketenangan untuk pemulihan, para pasien dan keluarga di sejumlah puskesmas justru harus menanggung derita akibat ruang perawatan yang panas gulita tanpa adanya sumber daya listrik cadangan.
Keluhan ini salah satunya mencuat dari Puskesmas Bantimurung. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pemadaman listrik yang terjadi secara berkala membuat operasional pelayanan kesehatan yang bergantung pada aliran listrik lumpuh total. Yang paling memukul perasaan adalah nasib para pasien rawat inap yang terpaksa berjuang melawan sakit di ruangan yang pengap dan tanpa pendingin udara.
Salah seorang pasien rawat inap di Puskesmas Bantimurung yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kepedihan yang ia rasakan bersama pasien lainnya. Dengan nada suara terbata-bata akibat menahan gerah, ia menceritakan betapa menyiksanya situasi saat lampu mulai padam.
“Kami sesak dan kepanasan kalau mati lampu. Karena pihak puskesmas tidak memiliki genset untuk digunakan apabila mati lampu, sehingga kita dengan terpaksa tersiksa kepanasan dan gelap-gelapan di sini,” keluhnya dengan nada kecewa, Selasa (3/11/2026).
Menurut penuturan pasien tersebut, tidak adanya fasilitas genset atau pembangkit listrik darurat membuat situasi malam maupun siang hari terasa sangat mencekam. Ruangan rawat inap yang seharusnya steril, sejuk, dan kondusif untuk beristirahat berubah menjadi tempat yang gerah, memicu keringat bercucuran, hingga membuat beberapa pasien mengalami sesak napas lantaran minimnya sirkulasi udara akibat kipas angin atau pendingin ruangan yang mati total.
“Keluarga yang mendampingi juga kewalahan. Pasien yang seharusnya butuh ketenangan malah jadi gelisah karena kepanasan. Kami berharap pemerintah atau pihak terkait bisa segera turun tangan,” tambahnya.
Menanggapi keluhan serius tersebut, pihak manajemen Puskesmas Bantimurung tidak menampik kondisi pelik yang tengah terjadi. Perwakilan pihak puskesmas mengakui bahwa ketiadaan genset yang berfungsi optimal sudah berlangsung cukup lama akibat kerusakan mesin genset yang belum juga tertangani.
Pihak puskesmas berdalih bahwa kerusakan tersebut telah dilaporkan dan diusulkan kepada instansi berwenang jauh-jauh hari agar segera mendapatkan perbaikan atau penggantian unit baru. Namun, hingga saat pemadaman bergilir ini masif terjadi, usulan tersebut belum juga membuahkan hasil nyata di lapangan.
“Kerusakan genset ini sudah lama terjadi. Kami sudah mengusulkan untuk permintaan genset baru atau perbaikan, namun saat ini belum ada realisasi perbaikan ataupun penggantian dari pihak terkait,” ungkap perwakilan Puskesmas Bantimurung saat dikonfirmasi.
Kondisi ini tentu menjadi sorotan tajam bagi pelayanan publik di Kabupaten Maros. Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat seharusnya memiliki infrastruktur darurat yang memadai, terutama alat siaga seperti genset, demi mengantisipasi situasi krisis termasuk pemadaman listrik bergilir.
Kini, para pasien di Puskesmas Bantimurung hanya bisa pasrah menanti kepedulian nyata dari pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Maros agar krisis fasilitas listrik ini segera teratasi dan tidak lagi mengorbankan keselamatan serta kenyamanan orang sakit. (Ancux)













